Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

PERS MAHASISWA SEBAGAI PEMBENTUK DAYA KRITIS MAHASISWA

Di era rezim Soeharto ketika banyak media masa yang dibredel atau dilarang untuk terbit, pers mahasiswa lah yang tetap berani dalam menuntut keadilan.  Meskipun pada saat itu pers mahasiwa juga tak luput dari pembredelan. Tetapi, yang perlu diingat adalah pers mahasiswa lahir tidak dari mesin-mesin cetak. Mereka lahir dari rahim perjuangan untuk menuntut perubahan.  Pers mahasiswa pada saat itu merupakan bagian terpenting dari pergerakan mahasiswa.  Bahkan masyarakat pada umumnya memilih pers mahasiswa sebagai media pilihan mereka karena isi dari pers mahasiswa yang berani dan kritis.
            Ternyata ada semacam paradok yang terjadi paska runtuhnya rezim orde baru, yaitu mulai runtuhnya masa kejayaan pers mahasiswa.  Pers mahasiswa yang ketika rezim orde baru merupakan lembaga paling berani dan paling kritis dalam menyuarakan keadilan, malah mulai kehilangan taringnya di era reformasi.  Padahal di era reformasi ini kebebasan berpendapat telah dijamin didalam undang-undang dasar.  Hilangnya taring pers mahasiswa juga merupakan simbol mulai mengendurnya semangat pergerakan mahasiswa.  Dan hal ini akan berimbas pada rapuhnya salah satu pilar demokrasi yaitu mahasiswa.  Padahal mahasiswa memiliki fungsi yang sangat penting dalam tegaknya bangunan demokrasi.
            Belum lagi ketika kita melihat persaingan media masa saat ini.  Tidak sedikit media masa yang sekarang tidak lebih dari alat propaganda isu dan opini dari kelompok tertentu sehingga masyarakat hanya dijadikan konsumen bagi sebuah pemberitaan. 
            Artinya masyarakat memiliki kesempatan untuk mengakses banyak informasi, tetapi masyarakat tidak mendapat kesempatan untuk menyaring informasi yang ada. Perang antar media masa kemudian semakin memanas ketika media masa tersebut melupakan peran dan fungsi dari sebuah media masa yaitu sebagai alat pencerdasan bagi masyarakat.
            Di tengah perang antar media masa dan masyarakat yang menjadi korban, muncul banyak gagasan untuk menngembalikan fungsi dari sebuah media masa. Salah satunya adalah memalui citizen journalism.  Konsep dari citizen journalism ini adalah masyarakat dilibatkan dalam pembuatan sebuah berita atau informasi.  Harapannya adalah ketika masyarakat umum yang mencari berita sendiri maka berita yang diperoleh dapat mewakili aspirasi masyarakat pada umumnya.
            Tetapi model citizen journalism ini memiliki kelemahan karena bagaimanapun juga masyarakat tetap terikat pada kode etik dari perusahan media yang bersangkutan.  Artinya sudut pandang mereka harus tetap menyesuaikan dengan sudut pandang media induknya.  Hal ini akan tetap, walaupun kecil, memunculkan apa yang dinamakan bias dalam media masa.
            Kelemahan lain adalah model berita yang dihasilkan oleh masyarakat akan cenderung bersifat feature daripada straight news.  Hal ini disebabkan karena masyarakat umum bagaimanapun juga bukanlah wartawan terlatih sehingga akan kesulitan untuk mengejar berita yang bersifat straight.
            Di tengah polemik bias informasi di dalam media masa dan keterbutuhan masyarakat akan kejujuran sebuah pemberitaan rupanya masih banyak pers mahasiswa yang terlelap dalam uforia demokrasi.
            Maksudnya adalah banyak pers mahasiswa yang khawatir dan takut bersaing dengan media masa yang lebih besar.  Sehingga kualitas pemberitaan dari sebuah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) cenderung tumpul.  Yaitu lebih menitikberatkan pada informasi-informasi di sekitar kampus mereka.
            Padahal sebuah LPM memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberikan pendidikan sosial-politik minimal untuk mahasiswa di kampus mereka dan masyarakat sekitar pada umumnya.
Dalam hal ini perlu dipahami bahwa pers mahasiswa adalah pers yang lahir di dalam lingkungan kampus dimana nilai-nilai idealisme dan independensi dijunjung tinggi dalam balutan intelektualitas.  Untuk itulah dibutuhkan perhatian khusus agar pers mahasiswa tidak mati. 
Komunikasi berupa pedekatan personal dari pihak kampus akan mampu membantu melahirkan kepercayaan diri dari LPM yang ada ditambah dengan bantuan yang diberikan dalam hal material.  Juga menjadi jembatan antar LPM dengan media masa yang ada sehingga LPM dapat belajar dari media masa yang sudah mapan.

Mari Menghilang


Mukaddimah:
“…Sesungguhnya mereka dan kelompoknya melihatmu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka…”
{QS. Al A’raf [7] : 27}

Bismillahirrahmanirrahim…
Salamu’alaikum saudaraku. Semarang, 26 June 2011, di masjid  Polines Semarang.
Saat ini kami dalam posisi mabit kawan. Disaat yang lain tidur pulas untuk bersiap melaksanakan qiyamul lail (sholat malam) esok harinya, kami mencoba membuka lembaran-lembaran dari artikel yang kami bawa saat itu. Waktu menunjukkan pukul 00:14 WIB. Kami membaca sebuah artikel menarik kawan. Judul artikenya “Mari Menghilang” dari kumpulan artikel karya Ir. H. Bambang Pranggono, MBA., IAI yang dikumpulkan dalam buku berjudul “Mukjizat Sains dalam Al Qur’an : Menggali Inspirasi Ilmiah”.  Sebuah judul yang menarik. Dan isinya tidak kalah menarik.

Dalam Artikel ini, dengan mengutip ayat pada ikhtitam diatas, ayat ini dalam tafsir klasik disangkutkan dengan setan, yang tidak bisa kita lihat, padahal mereka melihat kita. Secara gamblang artikel ini mencoba berhipotesa, betulkah hanya setan yang tidak bisa tampak? Menarik kawan. Sangat menggelitik insting kami yang memang haus akan ilmu dan inspirasi.
Kami pun melanjutkan bacaan kami.

Dalam Tafsir Jalalain menerangkan bahwa tidak tampaknya setan adalah li-latifatu ajsadihim aw adimu alwanihim, akibat jasadnya yang sangat halus atau karena dia tidak berwarna. Kalau salah satu persyaratan  itu kita capai, artikel ini berhipotesa seharusnya kita pun bisa mencapai kondisi ini. Ia menyebutkan ketika makna ayat tadi hanya berhenti pada cerita bahwa setan tidak tampak, ya selesai saja sampai disitu. Padahal, tafsiran ayat tadi mengisyaratkan bahwa kita pun bisa menghilang apabila tidak berwarna, alias transparan. Sampai disini muncul pikiran-pikiran aneh dalam benak kami. Apa benar bisa? Bukankah perkara ghaib itu Allah SWT yang mengetahui? Kami pun melanjutkan bacaan.

Prof. Oleg Gadomsky dari departemen Quantum and Optical Electronics, Ulyanovsk State University di Rusia Barat, sudah mematenkan cara menghilang dengan penyamaran optical. Kami penasaran, kami browsing, ternyata benar kawan. Ada artikel yang membahas tentang Cloaking Decive. (Bisa dilihat artikelnya disini : http://en.wikipedia.org/wiki/Cloaking_device)
Metode itu dinamakan konversi radiasi optik. Ribuan manik-manik dari partikel emas superkecil berskala nanometer dirajut menjadi lembaran tipis. Lembaran tadi melengkungkan pancaran sinar mengelilingi benda yang diselimutinya sehingga seperti transparan.


Dengan teknologi yang berbeda, pada 2003, Tachi Laboratory di Tokyo University mendemonstrasikan sebuah jubah untuk menghilang, “Invisibility Cloak”. Jubah tadi dibuat dari material baru bernama retro reflectum, yang memproyeksikan gambar 3D dari sisi belakang, ke sisi depan jubah seolah-olah tembus pandang. Orang bisa melihat semua hal yang berada di sisi belakang pemakai jubah tadi. Sang Penemu, Prof. Susumu Tachi, baru-baru ini memamerkan jubah tadi di San Fransisco. Sampai disini, kami berhenti. Kami tidak percaya. Apa benar? Kami mencoba mengkonfirmasi hal ini. Ternyata benar kawan. Video demonstrasinya tersebar di youtube dengan keyword invisibility cloak, invisibility japanese, dll. Atau dari link ini : http://www.youtube.com/watch?v=PD83dqSfC0Y&NR=1&feature=fvwp. Dalam waktu dekat bahkan Prof. Susumu Tachi bahkan berencana membuat kamar tanpa jendela, yang orang yang ada didalamnya bisa melihat segala yang ada diluar, tapi orang luar tidak bisa melihat kedalam, bahkan ia berimajinasi bahwa dindingnya pun tidak tampak.



Subhanallah kawan! Ternyata dari sepenggal ayat Al Qur’an tadi merujuk pada hal yang luar biasa seperti ini. Mereke melihatmu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Penemuan baru ini akan sangat bermanfaat. Untuk spionase, militer, untuk pesawat “siluman” dan lain-lain. Bayangkan jika penemuan seperti ini didedikasikan untuk kaum muslimin. Masya Allah, mungkin inilah yang disebut hikmah yang hilang dari kaum muslimin, yaitu Ilmu. Kenapa bukan kaum muslimin yang menemukannya. Padahal secara tafsir, Al Qur’an memuat tentang ini. Bagaimanapun, ribuan ayat Al Qur’an masih menanti dijadikan inspirasi dalam menemukan terobosan ilmiah baru. Mari kawan, kita tadabburi lagi kitab suci ummat islam ini.Bukankah Allah SWT telah menyindir kita, Afalaa ta’qilun? Wallahu a’lam.

Sudah dulu ya kawan. Kami mau istirahat juga untuk bersiap qiyamul lail nanti. Sampai jumpa di catatan kami yang berikutnya…
Rabbi zidnii ‘ilman, warzuqnii fahman.

(Masjid Polines Semarang, 26 June 2011 00:52, - mfa)
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template